Monday, December 17, 2012

Kelepon dan Onde-onde

Tau kelepon kan? Itu, yang saya maksud adalah kue kecil, ijo, kenyal dan berisi gula merah. Dari dulu nama kelepon "mengganggu" banget buat saya. Bikin saya kepikiran ajah, darimanakah asal kata tersebut? 

Kata yang kedengerannya paling mirip sama kelepon adalah "colophon". Kalo ga salah ini adalah bahasa Latin (waks!). Artinya adalah bagian dari buku yang berisi informasi/ data teknis tentang buku itu (ditulis pake font apa, disetting sama siapa dll). Arti kata ini jauuuuuhhh.. banget sama benda ijo kecil bernama kelepon itu tadi bukan? Jadi, bisa dipastikan kata kelepon BUKAN berasal dari bahasa latin ini. Lagian juga, nggak pernah ada dalam catetan sejarah kalo Socrates atawa Phytagoras nyemil kelepon..

Kata lain yang tampaknya deket dengan "kelepon" adalah "kelapa". Nah, ini rada deket nih hubungannya.. kelepon 'kan berbalur kelapa! Jadi mungkin saja.. mungkiiiiiinnn banget.. dulunya nama kelepon diturunkan dari proses pengerjaannya. "Iki jajan luwih mak nyuss yen sakwise direbus, trus dikloponi.." Gitu barangkali asal muasalnya, pada suatu hari di tanah Jawa. 

Tapi, kenapa dugaan ini diarahkan ke bahasa/ tanah Jawa?

Simply, karena di daerah lain (dari Sumatera sampe Sulawesi), kelepon disebut sebagai onde-onde!

OK, kecuali di Kalimantan. Bahasa Banjar untuk kelepon adalah kalalapon..

Onde-onde, on de ader hand (baca: on the other hand) di tanah Jawa adalah kue dari tepung ketan yang berisi kacang ijo kupas dan ditaburi wijen. 

Untuk anda yang penasaran, berapakah jumlah wijen di atas sebutir onde-onde.. begini hitung-hitungannya..

Dengan diameter 5 cm, luas permukaan onde-onde adalah 78.5 cm persegi. Gunakan rumus luas permukaan bola. Apabila kepadatan biji wijen 18 - 20 butir per cm persegi, maka jumlah wijen yang bertaburan di atas sebuah onde-onde setidaknya adalah.. 1,413 butir!!

Kalo anda dikasih onde-onde yang wijennya kurang dari ini, jangan diterima deh.. itu pasti LCOO (low cost onde-onde)!

Picture of Onde-onde By: Midori (Own work) [GFDL (http://www.gnu.org/copyleft/fdl.html) or CC-BY-3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by/3.0)], via Wikimedia Commons

Satuannya Apa?


Beberapa hari lalu, saya dan teman-teman membahas satuan dari makanan. Iseng banget sih? Nggak juga.. soalnya sore itu kami bermaksud pesan makanan lewat telpon ke salah satu warung padang. Jadi, kami harus menyebutkan satuan makanan yang kami pesan dengan akurat bukan?

Ketika menentukan satuan makanan, umumnya orang menggunakan kata 'porsi', terjemahan dari kata 'portion' atau 'bagian'. Dalam bahasa inggris, kata 'porsi' ini diterjemahkan sebagai 'serving size'. Ini menunjukkan pengaruh budaya. Kita, orang Indonesia, merasa makan adalah peristiwa sosial, sehingga satuan makanan kita yang lebih tepat adalah 'portion' atau 'bagian' dari makanan bersama. English speaking people (wong londo.. baik londo europe maupun londo ngamrik), merasa makan adalah peristiwa personal.. sehingga ada unsur subjektif untuk 'mendapat sajian' atau served..

Anyway, kata 'porsi' bukan satu-satunya satuan makanan, dan sebaiknya tidak sering-sering digunakan. Lho kok? Ya, karena 'porsi' itu nggak standard banget. Seporsi nasi uduk di warung mPok Iti misalnya, adalah sepiring penuh, rada menggunung. Sedangkan seporsi nasi uduk di restoran Sebrang Danau adalah setangkup hasil cetakan mangkuk kecil. Kalau anda laper banget, seporsi uduk di mPok Iti akan sangat memuaskan sementara di Sebrang Danau anda perlu nambah seporsi lagi.. Mungkin suatu hari nanti perlu diberlakukan standardisasi porsi nasi uduk secara nasional.

Kata lain yang biasa digunakan adalah "potong". "Beli nasi uduk sama ayam goreng sepotong" misalnya. Memang kata ini lebih umum digunakan untuk merujuk pada lauk pauk. Mungkin ini disebabkan oleh kebiasaan kita memotong lauk. Sepotong ayam misalnya, bisa berarti potongan dada, potongan sayap atau bagian lain. Untuk makanan yang berasal dari hewan utuh (tidak dipotong) satuan yang digunakan sudah benar.. yaitu ekor. Seekor ikan, seekor burung puyuh, tiga ekor udang..

Satuan 'potong' juga digunakan sebagai unit of measure dari kue dan roti. Ingat film "Cinta dalam Sepotong Roti" karya Garin Nugroho? Masalahnya, bagaimana menunjuk satuan dari kue yang tidak dipotong? Apa satuan dari lemper, onde-onde atau pukis? Sepotong lemper? Kan nggak dipotong? Sepotong onde-onde? Ya, karena bunder, bolehlah digunakan kata 'sebutir onde-onde'.. Bagaimana kalau 'sebuah pukis'.. Hedeuh.. Pukis kan nggak pake buah!!! Lalu bagaimana dengan kue putu? Sebatang kue putu?

Nah, komplikasi yang sama bisa terjadi apabila kita mau memesan martabak. Berapa yang harus kita pesan? Apa sih satuan dari martabak? 

Anda mungkin berfikir kalau satuan dari martabak adalah 'loyang'. Seloyang martabak!! Pinteeerrr... tapi itu berlaku cuma buat martabak manis! Lha kalau yang saya maksud adalah martabak telur, seperti Martabak Kubang misalnya?

Menyebutnya sebagai 'sepotong martabak' rasanya nggak pas karena pikiran anda pasti langsung tertuju pada "sepotong, berukuran kecil, yang merupakan bagian dari martabak besar". Jadi, bukan itu satuan yang tepat. Sebuah? Ah.. kok nggak pas juga ya? Selembar? Hmm.. martabak terlalu gendut untuk dianggap sebagai sebuah lembaran.
Ahh.. bagaimana kalau kita sepakati saja, satuan nasional untuk martabak telor adalah... Gepok!!

"Bang.. beli Martabaknya ya.. Spesial.. Dua gepok!!!"

(gambar martabak dari www.inatourism.com)

Wednesday, October 24, 2012

Roti sehat kok jamuran?


The Sotoyest Human on The Planet is back! Hehe..

Mengamati obrolan di milis JS tentang ciri-ciri roti "sehat", umumnya mengatakan bahwa ketiadaan pengawet ditunjukkan dari jamur yang tumbuh di roti dalam beberapa hari. Deus, roti tersebut lebih sehat daripada roti yang nggak jamuran dalam waktu lebih panjang. Tapi, benarkah roti yg cepat jamuran berarti nggak pake pengawet? Atau sebaliknya, roti yang agak lama baru jamuran berarti dibubuhi pengawet berlebih sehingga tidak sehat?

Nah, untuk itu.. (entah kenapa saya selalu ingat Timbul Srimulat kalau ngomong "untuk itu".. OOT pisan! :)

Ya, untuk lebih meyakinkan, maka sepagian ini saya ngubek-ngubek gugel untuk cari jurnal ilmiah yang membahas tentang ini. Alhamdulillah, nemu satu yang lumayan bagus, judulnya Microbial Spoilage of Bakery Products and Its Control by Preservatives, tulisannya Saranraj dan Geetha (baru nih, tahun 2012).

Isinya lumayan mencerahkan dan mengingatkan beberapa hal. Pertama, kenapa roti bisa jamuran? Roti kan dipanggang sampai suhu 200C selama beberapa menit (di atas 10 menit ya?). Secara umum jamur dan bibit-bibitnya yang berada di permukaan roti akan terbakar mati pada proses pemanggangan ini. Panas lho di dalem situ! Jadi, mestinya permukaan roti yang baru keluar dari oven itu bersih banget, kalau nggak mau disebut steril. 

Nah, jamur kemudian datang dari mana? Wah, bisa macem-macem sebabnya. Bisa kena dari udara, debu atau pembungkus yang tidak bersih. Juga bisa disebabkan dari penanganan roti yang kurang baik, misalnya kebersihan pabriknya kurang terjaga atau roti diiderin keliling kota dalam kontainer yang tidak terjaga, Bibit jamur juga bisa bertahan pada proses pemanggangan kalau bahan (terutama terigu) mengandung bibit jamur, atau pemanggangan yang kurang sempurna. Btw, nama resmi jamur roti yang paling umum adalah Rhizopus stolonifer (udah, nggak usah dihafalin :).

Karena kandungan air pada roti lumayan tinggi (untuk roti tawar sekitar 30-35%an), jamur yang mendarat di permukaan jamur bisa dengan mudah tumbuh. Tapi untuk tumbuh, jamur perlu waktu 1-2 hari sampai "pohon" jamurnya cukup besar hingga terlihat oleh mata manusia.

Dari sini, kita bisa bertanya-tanya, lha kalau roti jamuran dalam waktu dua hari setelah dibikin, bukankah itu berarti sesaat setelah dipanggang itu roti langsung kena bibit jamur? Berarti tempat bikin atau penanganannya nggak beres dong? Emang sih, artinya rotinya nggak pake pengawet, tapi kan kita ga mau jorok juga..

Lalu bagaimana dengan pengawet? Sebenernya penggunaan lemak, garam dan gula, juga pemanggangan yang baik bisa berfungsi sebagai pengawet alami. Lemak dan protein yang mengikat air bisa membuat kandungan air pada produk kue dan roti jadi nggak bebas untuk dipakai oleh jamur buat tumbuh. Mungkin itu sebabnya roti/ kue yang berlemak tinggi rada awet dibanding roti tawar. Masalah pada lemak bukan (hanya) jamuran, tetapi juga tengik. Kita bahas itu lain kali ya.. Sayangnya, pengawet alami ini seringkali kurang kuat sehingga untuk menghindari kontaminasi yang terlalu cepat maka pabrikan menambahkan beberapa bahan lain. Yang populer adalah potasium sorbat atau kalsium propionat. Jumlahnya kecil banget kok, dan mestinya nggak berbahaya pada dosis yang dianjurkan (ingat, garam juga kalau kebanyakan mah bahaya bukan?). Dengan penambahan pengawet dalam jumlah dan jenis yang aman, pertumbuhan jamur bisa ditunda sampai sekitar 5 hari.

Nah, di sini kita bisa ambil angka bagus nih buat ancer-ancer. Inget ya, buat ancer-ancer aja. Secara umum, kalau roti jamuran sebelum 2 hari, berarti ada yang kurang benar pada penanganannya, baik di pabrik, di jalan, di toko, atau bahkan di rumah kita. Kalau roti nggak jamuran juga setelah lebih dari 5 hari, maka berarti pengawetnya bekerja terlalu giat. Bisa karena kebanyakan atau karena jenisnya yang nggak beres.

Mudah-mudahan tulisan sotoy ini nggak nambah bingung dalam memilih roti yang "sehat". O,ya, supaya lebih "sehat", beli rotinya jangan pake mobil. Pakai baju olahraga yg keren, sepatu supernyaman, terus lari ke toko roti terdekat.. literally, lari!

(foto roti yg sedap itu diambil dari: http://www.onlytoptens.com/all/top-10-sandwiches/)

Tuesday, July 10, 2012

Homo sapiens coquereus

Kalau raw food kita sederhanakan menjadi "makanan mentah" atau makanan yang nggak melewati proses pemanasan, ujung-ujungnya bisa muncul pertanyaan "kenapa kita memasak?". Maksudnya, kenapa sih kita, manusia ini repot-repot memasak makanan kita? Nggak cuma sekadar ambil, cuci, campur, makan?

Jawabannya.. ribet juga ternyata. 

Professor Richard Wrangham dari Museum of Comparative Zoology, Harvard Uni, bilang kalau memasak adalah salah satu karakteristik manusia yang membedakannya dengan makhluk hidup lainnya. Emang sih, rasanya belum pernah liat ada marmot bikin nasi goreng, atau kura-kura bikin pancake..

Terus kenapa manusia memasak? Kalau kita lihat secara anatomi (hayo siapa yang dulu di SMP/ SMA pernah ngebedah kodok?), kita bisa perhatikan kalau struktur gigi, rahang, dan otot rahang manusia umumnya kecil dan lemah. Okelah ada beberapa orang yang otot rahangnya rada gede (Arnold Schwarzeneger misalnya), tetep aja relatif kecil dibandingkan dengan gorila, simpanse atau buaya. Rahang manusia nggak cukup kuat untuk merobek batang bambu seperti panda, atau memecah biji kenari seperti tupai. Begitu pula dengan lambung dan usus manusia. Relatif tipis dan lemah. Beda sama babat sapi..

Apa akibatnya? Akibatnya, manusia yang desain anatominya seperti ini perlu asupan energi yang mudah diproses. Bisa berupa biji-bijian kecil, kacang-kacangan, dan tumbuhan berdaun lembut (iyah, saya lagi ngomongin spesies sayah: manusia sunda pemakan daun:). Ini bisa dimakan langsung tanpa diapa-apain. Dicocol sambel lebih nikmat sih.. Repotnya, biji, kacang dan daun tidak dengan cepat memenuhi kebutuhan energi manusia. Maka dari itu perlulah sumber energi lain, misalnya tumbuhan dengan karbohidrat tinggi. Singkong dan kentang misalnya. 

Karbohidrat (yang juga bisa didapat dari biji-bijian/ serealia) umumnya dikemas oleh Tuhan dalam bentuk rantai panjang dan ribet bernama polisakarida. Apakah manusia bisa memanfaatkan polisakarida (pati) ini? Bisa aja, tapi nggak efektif. Ongkos energi untuk mengurai pati menjadi gula, lalu gula menjadi energi lagi bisa nggak nyucuk. Coba aja kunyah beras yang belum dimasak. 

Terus gimana dong? Disini manusia memasukkan sumber energi lain.. panas dari api! Dengan adanya panas (dan air), polisakarida akan tergelatinisasi dan putus-putus sehingga lebih mudah dicerna (dirubah jadi energi). Pun demikian dengan protein hewani. Protein yang berupa rantai panjang dan ribet akan terputus (terdenaturasi) sehingga lebih mudah dicerna. Daging hewan buruan akan semakin empuk dan mudah diproses oleh rahang dan saluran cerna manusia nan lemah ini. Bagaimana dengan protein marina? Ikan dan sumber makanan laut umumnya sudah empuk dan proteinnya lebih sederhana, sehingga sudah mudah dicerna. Mungkin ini sebabnya beberapa bangsa di dunia makan ikan (laut) mentah-mentah.

Makanan laut (khususnya ikan) sering kali juga diproses dengan asam, khususnya berupa air jeruk lemon/ jeruk nipis. Kenapa eh, kenapa? bukannya tanpa asam pun makanan laut sudah mudah dicerna? Jawabannya sama aja.. dengan adanya asam, protein ikan akan terdenaturasi (ditandai dengan warnanya berubah) sehingga lebih mudah lagi dicerna. Asam juga punya fungsi lain. Dengan turunnya pH (makin asam), kemungkinan bakteri untuk hidup juga menurun. sehingga kontaminasi bisa dihindari. Hubungan "magical" lain antara asam dan ikan adalah.. menghilangkan bau. Bau ikan datang dari senyawa yang jenismya amine (amine tjendrakasih? bukaaann.. dasar jadul!). Volatile amine adalah senyawa hsil bongkaran protein yang mudah terbang.. sehingga mudah hinggap di hidung. Asam bereaksi dengan volatile amine ini dan berubah menjadi garam amonium yang susah terbang. Bau pun hilang..  

Dari sini kelihatan bahwa kebutuhan memasak makanan atau tidak, sangat dipengaruhi oleh kebutuhan nutrisi. Sebagai hominid (keluarga "kera besar") manusia punya kebutuhan protein yang lumayan tinggi. Buat apa? Salah satunya adalah untuk.. berpikir. Berpikir memungkinkan manusia mengembangkan budaya dan menjadikan manusia dari sekadar brutal hominid menjadi "Homo sapiens" (hominid yang bijaksana, wise man). Dan manusia bijaksana ini juga ternyata membentuk (atau dibentuk) dari kemampuan mengendalikan api yang kemudian digunakan untuk memasak. Apakah kalau tidak memasak manusia kembali ke jaman Homo erectus? Nggak juga. manusia bijaksana selalu menggunakan energinya dengan efisien. Makanan dimasak kalau memang perlu dimasak. Kalau nggak perlu.. ya nggak usah. Apalagi kalau rasanya juga udah enak :)

Maka Homo sapiens kemudian berkembang menjadi Homo sapiens coquereus (wise man cooking). Istilah latin yang terakhir ini sih bikinan saya, nggak ada di buku.. hehehe..  

(gambar dari: http://cache.io9.com/assets/images/8/2011/08/xlarge_evolutioncooktop.jpg)

Monday, June 4, 2012

Negeri Kerupuk Mekar

Sama-sama dari ikan dan kanji, sama-sama diulenin, sama-sama diadonin... Tapi, kenapa kerupuk ngembang ketika digoreng sedangkan pempek tidak? 

Baiklah, mari kita lihat lebih dalam.. Maksudnya kita lihat dalamnya si pempek dan kerupuk ini. Perbedaan paling besar dari pempek dan kerupuk adalah perbandingan jumlah ikan dan tepungnya. Pempek menggunakan perbandingan ikan : kanji beriksar antara 3:1, 2:1 atau 5:3, tergantung keyakinan dan kepercayaan masing-masing. Sementara kerupuk, perbandingan ikan : kanji berkisar antara 1:1 hingga 1:5. Ini kerupuk ikan ya, bukan kerupuk rasa ikan.

Singkatnya, pada pempek jumlah ikan selalu lebih banyak daripada kanji, sementara kerupuk sebaliknya.

Terus apa efeknya? Begini, daging ikan pada dasarnya adalah protein. Protein ini akan bekerjasama dengan kanji untuk menentukan nasib adonan selanjutnya. Kalau adonan kanji direbus, dia akan mengembang (nama resminya: tergelatinisasi) dan membentuk jaring yang akan menjebak molekul-molekul air. Protein, dengan ujung molekulnya, akan bekerja sama untuk memegang air yang sudah dijebak ini. Dijagain baik-baik sehingga ga gampang lepas. Semakin tinggi kadar proteinnya, semakin banyak juga yang bakal megangin air di adonan.

Ketika masih berupa batangan adonan, kadar air pempek dan kerupuk bisa jadi hampir sama. Tapi ketika dibiarkan pada udara terbuka (apalagi dijemur) kerupuk akan melepas sebagian besar airnya sehingga akhirnya kerupuk lebih kering daripada pempek. Cireng, yg ga pake campuran protein sama sekali, adalah bentuk lain adonan kanji. Cireng gampang banget kering kalau disimpan.

Lalu apa yg terjadi ketika tiba pada urusan goreng menggoreng?

Kandungan air yang tinggi, ditambah bentuk geometris pempek yang murni tri-dimensional, yaitu memiliki struktur pada sumbu x, y dan z (atau x, r dan w pada pempek lenjer) membuat konduksi panas dari minyak goreng terhalang koefisien pindah panas, sehingga molekul air pada titik yang lebih jauh dari dX tidak mengalami perubahan fasa....  (maaf, paragraf ini ditulis dalam keadaan kesambet Isaac Newton hehe..)

Bahasa manusianya gini.. Karena gede dan susah ngelepas air, ketika digoreng pempek hanya sempat kering di luarnya. Di dalemnya kandungan air masih lumayan banyak sehingga masih kenyal-kenyal empuk.

Sementara pada kerupuk ketika digoreng, terjadi peristiwa yang luar biasa secara molekuler! Molekul air yg tinggal sedikit (harus sedikit) akan menguap dengan cepat, nyaris seperti meledak ketika kena minyak panas. Ledakan ini akan mendorong jebakan kanji yang semi elastis untuk merentang dan mengembang seperti balon yang ditiup. Air yang lepas kemudian membuat jaringan kanji yg sudah didorong ini mengering dan kaku. Inilah yang membuat kerupuk mengembang dan renyah. Dan ini juga menjelaskan kenapa kerupuk bisa "digoreng" pakai pasir, bahkan dipanggang langsung di atas api dan tetep ngembang dan renyah. Cak Yohan Handoyo, momods JS jagoan wine, punya skill level 9 dalam hal manggang kerupuk udang biasa jadi mekar bagus..

Jumlah air pada kerupuk ini tricky.. Kalau kebanyakan air dia ga akan ngembang, karena panas yg disupply minyak ga cukup buat bikin "ledakan", tapi kalau kurang air maka nggak ada juga yg ngedorong lapisan kanji buat melar. Ujung-ujungnya bantet juga. Indonesia, yang disinari matahari equatorial yang mentereng gonjreng, memiliki kelembaban udara yg lumayan tinggi juga. Ini bagus buat mengatur kadar air kerupuk. Cukup jemur kerupuk di luar rumah, biar alam Indonesia yang ngepasin kadar air buat kepingan kerupuk mentah. Tuhan emang tau banget kalau kita, bangsa Indonesia, doyan banget kerupuk.. (note: gambar kerupuk dari wikipedia)

Tuesday, April 7, 2009

Indomie Empal Gentong

Pagi ini sarapan saya istimewa. Bukan karena tanggal tua (hehehe), tapi karena Dila sedang kumat isengnya.. mencoba sebanyak mungkin varian Indomie cita rasa nusantara!

Dan percobaan berbahaya ini dimulai pagi ini dengan Indomie Rasa Empal Gentong. Isi "paket" indomie ini adalah sekeping mie, bumbu, cabe bubuk dan sebungkus benda-kecil-yang-berubah-jadi-seperti-daging-ketika-kena-air (fiuhh.. panjang pisan namanya.. hehe).

Mie dimasak sesuai dengan petunjuk, ditambah sayur dan telur rebus (biar lebih kumplit gizinya).

Setelah matang, penampilannya mirip sekali dengan indomie rasa kari ayam, tapi dengan warna yang lebih gelap. Pandangan pertama sih bilang kalau ini beneran kuah empal gentong. Jagoan juga tuh bagian R&D-nya bisa meniru penampilan makanan khas Cirebon ini dengan lumayan meyakinkan.

Aromanya? Nah, ini.. aromanya ya Indomie banget! Artinya, harum khas mie rebus dengan kuah kaldu daging. Aroma bumbu empal gentong hanya tercium secara part-time.. kadang ada, kadang tidak.

Seruputan kuah memastikan hal ini. Rasanya cenderung datar mirip indomie rasa baso sapi, atau ayam bawang. Ada sedikit-sedikit hentakan rasa rempah tapi nyaris terlewat. Benda kering-yang-namanya-panjang itu lumayanlah untuk menambah tekstur dan sedikit rasa khas daging. Cuma kok lebih berasa ketika belum terlalu mekar ya? Lebih enak, kayak keripik..

Sebagai sebuah upaya melestarikan pusaka kuliner nusantara, Indomie rasa empal gentong ini bolehlah.. mungkin bagian R&D nya harus lebih konsentrasi pada rasa, dan bukan semata pada penampilan. Paling tidak aromanya perlu diperkuat. Dengan harga yang tak sampai sepertiga empal gentong betulan, Indomie rasa empal gentong ini tentulah tidak bisa diharapkan terasa empalnya.. apalagi gentongnya.

Ketika mangkuk diangkut ke dapur, tipi sedang menyiarkan berita tentang kampanye pemilu yang hiruk pikuk.. Saya terbayang kembali suara khas Judika di tipi menyanyikan iklan Indomie (ya, saya juga nonton kontes Idola Cilik):

"..pilihan rasa boleh berbeda, selera tetap sehati.."

Indomie Rasa Empal Gentong.. dicontreng (baca: udah dicoba!)

(gambar dari indomie.com.. yes that website do exist!)

Tuesday, December 30, 2008

Konser Rock di Cibubur: Umaku Restoran Jepang

Akhirnya saya bisa ikutan juga acara Kumpulsutra (ngumpul-ngumpulnya Jalansutra) pas tahun 2008 nyaris habis. Ajakan Mas Dadi untuk "Ke Tokyo Lewat Cibubur" saya sambut dengan sukacita. Nggak nyangka, kalau acara kumpulsutra malem minggu kemarin (27/12) di Umaku Citra Gran Cibubur bergerak laksana sebuah konser rock. Bukan rusuh dan penuh gerudukan massa.. tapi lebih ke meriah dan penuh komposisi asik buat dinikmati. Begini ceritanya..

Opening Act: Sashimi – the funk and punk
Bagaikan deretan band anak muda yang meriah dan energik, jejeran sashimi menghentak cepat. Ada tuna yang kenyal dan beraroma khas, bagaikan Greenday -garage band yang dimotori Billie Joe Armstrong- ia menggebrak dengan jurus sederhana. Persis seperti lagu mereka "When I Come Around", potongan tuna yang selalu jadi sashimi klasik seolah mengumandangkan bahwa ia dan segala pesonanya adalah sebuah kenyataan:
"No time to search the world around.
Cause you know where I'll be found!
"

Norwegian salmon yang oranye di sisi lain dengan lembut membelai lidah tanpa perlu jadi kemayu dan mendayu-dayu. Bagaikan karya Oasis, potongan salmon berlemak ini berbisik:
"Cause after all.. you're my wonderwall.."

Opening-act meriah ini dipuncaki oleh band anak muda besutan Disney: The Jonas Brother. Potongan kekar swordfish sashimi menawarkan kesegaran yang bersih. Ada tekstur renyah yang sukar dicari tandingannya, mirip dengan musik pop-rock The Jonas Brother. Dan seperti band idola abg amrik ini, swordfish sashimi bisa jadi "the next big thing" buat penggemarnya.

Pick The Tempo: It's Classic Heavy Metal
Parade sushi klasik, gumpalan nasi beratapkan ikan segar, serasa memutar balik memori kala heavy metal masih berkumandang di radio. Ada salmon sushi yang menapaki tingkat kerumitan harmoni dan progresi, tanpa distorsi yang berlebihan. Kekenyalan salmon beradu dengan nasi
bersalut cuka tipis, sebuah sensasi yang hanya bisa dijelaskan oleh Van Halen:
"It's got what it takes, so tell me why can't this be love?
Straight from the heart,
oh tell me why can't this be love?
"

Unagi sushi yang manis tapi gurih mengingatkan saya pada sensasi musik-musik Bon Jovi. Tidak terlalu dalam, tapi selalu kena di hati. Rasanya Andreas, Rama dan Reyna, teman semeja saya malam itu sepakat. Kesederhanaan lirik khas Jon Bon Jovi dan tarikan gitar Richie Sambora seolah tercetak jelas pada potongan unagi sushi. Bukan tipe "I'll Be There For You" atau "Bed of Roses", tapi sensasi tebal dan sedikit gagah seperti pada "Livin on a Prayer" dan "Something for the Pain":
"Give me something for the pain.
Give me something I can use.
To get
me through the night.
Make me feel all right, something like you.
"
Yeaaahhh…

Yang agak overkill ternyata adalah swordfish sushi. Tekstur renyah potongan swordfish nggak masuk sempurna dengan lengket dan chewy-nya gumpalan nasi. Mereka asyik jalan sendiri-sendiri. Dan begitulah saya menikmatinya. Hey, Yngwie Malmsteen dan Joe Satriani pun lebih enak dinikmati terpisah kan?

Fusion Sushi Roll: Break time
Entah kenapa sesi ini terasa agak panjang dan kurang berkesan. Mungkin karena komposisi yang ditampilkan mirip dengan apa yang ada di pasaran. Salmon berguyur mayo dan unagi membalut daging kepiting soka. Ada rasa orisinil yang mengambang tapi terbungkus aksesoris yang berlebihan. Ingat band-band rock 2000-an, seperti Creed, Vertical Horizon, Dashboard Confessional sampai Linkin' Park. Enak sih, tapi nggak sampe nancep di hati.

Sweet Child O' Mine: Gunkan Sushi
Inilah soundtrack paling pas untuk menemani deretan gunkan sushi bertopping ikura dan tobiko. Dua telur ikan paling kondang di kuliner Jepang. Seperti lagu andalan Guns N Roses di album Appetite for Destruction ini, tobiko (telur ikan terbang) meletus dimulut memberikan ledakan-ledakan asin gurih yang menyenangkan. Kejutan-kejutan yang terjadi sepanjang kunyahan, bak goresan gitar Slash di lagu yang kondang pada periode akhir 80-an ini. Di sisi lain pinggan, ikura (telur salmon) yang lebih besar terasa bagaikan lagu yang sama tapi dengan tone yang lebih lembut. Letusannya di mulut tak sehebat tobiko, tapi dengan rasa yang tidak kalah dramatis. Yang ini Sweet Child O' Mine versi Sheryl Crow.. Serak-serak basah memukau

Rocks On!: Sishamo
Ikan gendut sepanjang pensil, dengan perut penuh berisi telurnya, di grill sampai matang sempurna, nyaris garing tapi tetap moist. Rasa gurih khas ikan berbumbu minimalis, aroma telur ikan dipadu dengan sedikit pahit di pangkal lidah hasil karya dinding perut ikan yang tidak dibongkar. Bukan sesuatu yang mudah diterima apalagi bagi penikmat ikan bakar penuh bumbu yang tebal dan berat ala Babe Lily.

Lapisan rasa demi rasa, dibalik kesederhanaan tersimpan sebuah misteri kerumitan yang luar biasa. Dan semuanya datang dalam paket kecil. Ikan Sishamo habis dalam beberapa kunyahan, bahkan sebelum semua rasa berhasil dicerna oleh pikiran yang belum dalam ini.

Ah, terngiang komposisi dari sebuah group besar asal Irlandia besutan mas Bono, the Edge, Larry Mullen dan Adam Clayton:
"It's alright...it's alright...it's alright.
She moves in mysterious
ways.
It's alright...it's alright...it's alright.
She moves in
mysterious ways".

Dan sishamo menyisakan misteri yang bisa jadi alasan untuk kembali ke Umaku besok-besok..

Encore: Udon
Semangkuk kecil udon putih mulus terendam dalam kuah coklat muda beraroma kaldu serutan ikan. Di atasnya bertengger manis sekeping inti bunga teratai, tempura udang, seiris kulit tahu berbumbu tajam dan sejumput rumput laut hijau segar. Inilah penutup sekaligus puncak dari acara "konser" malam itu. Sebuah penutup yang sederhana tapi sangat berkesan. Jumputan karbohidrat udon memang mengeyangkan sekaligus jadi bekal untuk pulang dengan perut nyaman.

Energi terisi dan perjalanan kembali dari Cibubur ke rumah (melintasi Bekasi, Depok, Jakarta Timur, Jakarta Selatan lalu Serpong; 5 kota di 3 propinsi bo'...) dipenuhi berbagai kata untuk menyusun review Kumpulsutra yang mungkin terakhir di tahun ini.

Wah, sudah mau tahun depan lagi.. Mengingat obrolan santai, keceriaan dan kehangatan keluarga JS-ku, saya tiba-tiba teringat pada the legendary Bob Marley:

"Everything's gonna be alright.. everything's gonna be alright.."

Begitu katanya..

Monday, November 10, 2008

Natto pertama..

Pertama kali denger natto dari Pak Ali, dosen mikrobiologi di kampus yang jagonya makanan fermentasi. Sejak saat itu, natto masuk jadi target makanan yang mau dicobain kalau punya kesempatan (baca: punya duwit). Secara waktu kuliah mah, makanan Jepang tuh rasanya jauuuhhh dari harapan. Kecuali HokBen, yang secara de jure dan de facto rada susah untuk disebut sebagai makanan Jepang.

Belasan tahun kemudian, di pertengahan bulan Oktober lalu, saya sampai ke sebuah warung kecil bernama Tori Katsu. Ini restoran yakitori di kawasan "Little Japan" di Melawai. Saya baru pertama kali masuk ke daerah ini.

Setelah puas nongkrongin temen-temen yang nyicip yakitorinya (saya ga nyobain karena sebagian menu yakitori-nya berbahan babi), dan perut udah rada kembung diisi Coca Cola dowang, akhirnya Adi, temen saya yang baik, menemukan natto di buku menu. "Udah pesen, kalo lu ga doyan, gua yang abisin", katanya.

Dan inilah natto pertama dalam hidup sayah. Cantik, seperti seharusnya makanan Jepang yang baik dan benar. Natto coklat muda dikelilingi oleh wasabi dan irisan daun bawang hijau segar, dalam mangkuk keramik kecil berwarna pink, kontras dengan potongan ikan tuna segar berwarna merah tua. Di tengah-tengah, kuning telur burung puyuh tampak bulat merona, seperti matahari pagi.

Rasanya? Anda harus nyoba. Sebenernya nggak ada yang aneh, atau istimewa dari rasanya. Ya seperti kedelai rebus paki telur dan ikan mentah saja. Yang lucu adalah teksturnya. Natto yang lengket, berbenang-benang putih seperti mozarella kurus (lebih mirip lem buat nangkep lalat sih sebenernya) terasa agak aneh di mulut. Tapi bener kok, nggak sampe ekstrim banget. Campuran bawang daun iris dan wasabi bikin rasanya jadi lebih nyaman di mulut.

There it goes.. Obsesi belasan tahun terbayar malam itu. Enak sih, tapi nggak sampe bikin saya sengaja pergi ke supermarket Jepang di Wijaya untuk beli sekilo natto dan bikin makanan sendiri di rumah.

Sebelum pulang, mampir dulu di tukang takoyaki yang mangkal di depan warung ini. Tukang takoyaki bermobil ini konon sudah lama berjualan di sini. Takoyaki-nya enak, cukup buat menghapus rasa aneh lengket-lengket di mulut akibat natto. Kalau untuk yang ini, ada kemungkinan saya balik lagi..

Monday, October 13, 2008

Lagu bagus.. hehe..



Ini obsesi? Bukan, ini cuma lagu bagus dari Saykoji hasil nemu dari Youtube. Jangan dipikirin. Enjoy..

Tuesday, October 7, 2008

Selamat Lebaran 1429 H


Mohon Maaf Lahir Bathin.. Semoga seluruh amal ibadah kita yang lalu dan yang akan datang selalu diridhoi Allah SWT.

(foto dari Wikipedia.. nuhun yah Wiki..)

Wednesday, September 24, 2008

Korcket Science!


Nggak, ini nggak salah nulis kok. Memang begitu yang saya maksud: Korket. Ini salah satu makanan unik yang saya temuin waktu survey buat jalan-jalan ke Madura pertengahan Agustus lalu. Yap, THAT Madura! Setelah hampir tidak menemukan makanan unik di sepanjang pantai Utara Madura (ada sih, tapi nggak terlalu notable), akhirnya saya sampai ke Sumenep.

Atas petunjuk Cindih Cereth, perburuan Korket dilakukan begitu matahari menampakkan diri di langit Sumenep. Jam 5.30 pagi, blusukan dimulai. Dengan semangat kita menuju Apen Boulevard di ujung kota Sumenep. Di daerah ini banyak banget penjual Apen, makanya saya sebut Apen Boulevard! Apen sendiri adalah apem/ serabi gaya Madura dengan ukuran super mini berkuah kinca-santen yang mantep. Lho, katanya nyari Korket, kok ke tukang Apen? Rupanya di Apen Boulevard inilah korket sering menampakkan dirinya. Di sini yang banyak dijual adalah korket versi basic.

Apaan sih korket? Ini adalah gorengan yang (saya duga) dibuat dari singkong rebus yang ditumbuk halus (mashed singkong) lalu dibentuk capsule berukuran batu batere buat senter Hansip (ukuran batre paling gede deh..). Rasanya? Persis kayak singkong rebus tumbuk yang digoreng.. hehe.. Untuk membantu membangun rasa, korket basic ini dibantu oleh sambel kacang encer kayak sambel lumpia goreng di SD dulu.

Itu versi basic.. Jam 7 pagi-nya saya mendapat versi premium dari korket. Masih gigantic-capsule-shaped-deep-fried-mashed singkong, tapi bumbunya lebih kompleks (diduga ada keterlibatan Royco hehe..), dan diberi tambahan cincangan bawang daun dan sledri sehingga permukaan gorengan tampak cantik dengan semburat warna hijau di sana-sini. Ukurannya juga sedikit lebih besar dari korket basic version.

Untuk yang satu ini, waduh.. lawannya bukan sambel kacang encer ecek-ecek.. Korket ini disandingkan dengan Kalsot. Apakah Kalsot? Ini adalah "soto Madura" dengan kaldu kikil yang gurih dan gelatinous berisi kacang ijo rebus, aneka jeroan iris dan sepotong kikil sapi plus tulang dan sumsum segede gagang telepon kelurahan!

Beberapa hari lalu di rumah, berbekal foto dan potongan memori di lidah saya, korket ini coba di-reverse engineered oleh Dila. Ini terpaksa dilakukan karena kita nggak bisa nemu resepnya meskipun sudah di Google. Hasilnya, korket made-in Serpong buat buka puasa. Meskipun secara rasa sudah pas, tapi dari tekstur dan kekenyalan rada meleset. Ini sih kayaknya karena beda jenis singkongnya. Singkong dari Madura kan ga ada tandingannya!

Tuesday, September 23, 2008

Kopi Luwak.. Hahahaha!

Hari ini (31 Agustus 2008), saya dan beberapa teman milis JS mendapat sesuatu yang luar biasa dari Mas AdiWT, si Peminum Kopi. Sesuatu itu bentuknya adalah selembar kertas, tak lebih dari setengah kertas A4. Sertifikat tanah? Sayangnya bukan.. tapi ini nggak kalah berharganya. Ini adalah sertifikat kecil bertuliskan "SAYA PERNAH MINUM KOPI LUWAK" lengkap dengan identitas kopi luwaknya, nomer sertifikat keaslian kopi luwak yang diterbitkan oleh Puslit Kopi dan Kakao Indonesia (no 146/AO-ICCRI/VIII/2008) dan jenis kopi luwak yang saya minum. Ya, kopi
luwak juga ada jenis=jenisnya lho..

Sertifikat ini saya dapat setelah acara seru Coffee Mythbusting yang diotaki oleh Mas Adi, setelah beliau mendapat stok kopi luwak dengan jumlah yang cukup. Acaranya Sabtu pagi tadi, jam 10 di Bakoel Koffie Cikini.

Pagi-pagi, Adi dan Jeng Mia sudah menjejer 3 gelas kosong lengkap dengan marking A, B, C. Setelah peserta dateng (beberapa teman baru.. senangnya..) dan kumplit, Adi mulai mengisi bubuk kopi ke gelas-gelas kosong tersebut. Sialan.. bahkan saya, yang biasanya dapat bocoran sehingga bisa belaga sok tahu, kali ini nggak dapet info apa isi gelas A, B dan C itu. Pokoknya, yang satu berisi kopi luwak liar (asli luwak hutan) dari Lintong, satu berisi kopi luwak Arabika ternakan dari Andungsari Jember dan satu lagi kopi Mandailing Grade 1 Ekspor.

Sniff..sniff.. idung berusaha mencari jejak-jejak sang luwak diantara kopi-kopi bubuk ini. Air panas dituangkan dan merebaklah aroma sedap ke seantero ruangan. Endus.. enduss.. tetep kok nggak ketemu ya bau-bau si luwak ini. Wah, jangan-jangan ditipu Adi nih.. kopi kiloan pasar dibilang kopi luwak.. Tapi, karena saya tau Adi dulunya Pramuka (baca: bertanggungjawab dan dapat dipercaya, hemat cermat dan bersahaja...) maka kok rasanya nggak mungkin Adi bohong..

Aroma kopi di gelas A mengingatkan saya pada nangka mateng yang harum dan manis. Ada bau getah dan tanah di situ. Paduannya agak berantakan tak beraturan. Hirupan pertama menghasilkan body tipis dengan acidity yang sedang-sedang saja. Ada rasa buah-buahan tipiiiisss banget, dan aftertaste-nya nyureng di tenggorokan. Finishnya rada panjang dan sedikit lingering. Kesimpulannya: Ga doyan!

Aroma kopi di gelas B lebih segar. Meskipun crema hasil tubrukannya nggak segenjreng kopi A dan C. Aromanya fruity dan floral, bodynya rada mantep, dibandingin yang pertama. Acidity-nya juga sedang-sedang saja (ini kopi apa lagunya Veti Vera sih..). Yang menyenangkan adalah rasa fruity yang bulat mantap terasa di tiap tegukan, matching sama aromanya. Finishnya juga bersih dan pas. Kesimpulan: Doyan nih.. kalo ada secangkir lagi, boleh..

Aroma kopi di gelas C tercium rada earthy, dengan sedikit aroma coklat item. Crema-nya paling cihuy. Begitu diseruput, terasa bodynya yang tipis tapi seksi, dengan acidity yang melonjak-lonjak.. dziiinggg.. terasa di langit-langit mulut. Pertama sih lucu.. lama-lama kok nyebelin ya.. Serasa nonton film komedi Indonesia.. Rasa coklat yang diduga muncul bareng sama aromanya ternyata dateng tuipiiiissss banget. Nyaris nggak kerasa diantara acidity yang terlalu riang gembira ini. Finishnya rada panjang, dengan tone manis di aftertaste. Kesimpuannya: Hmm, bukan favorit, tapi kalo ada sih nggak nolak..

Dan sodara-sodara, ternyata kopi yang saya paling nggak doyan (Kopi A), itulah kopi luwak liar yang katanya eksotik itu!!!! Harga per kilonya di tingkat eksportir bisa mencapai 1.9 juta perak. Kalo sudah sampai ke negara tujuan ekspor bisa dibandrol sampai 5-8 juta perak. Duh..

Kopi C, yang saya nggak gitu hepi, ternyata adalah (lagi-lagi) kopi luwak!! Kali ini, luwak ternakan di kebun Andungsari. Harga perkilonya nggak semahal kopi A, "cuma" 1.5 juta perkilonya. Lagi.. duh...

Nah.. kopi yang saya doyan banget.. Kopi B itu adalah Mandailing Grade 1 Ekspor. Meskipun ini bukan kopi sembarangan, harganya nggak ada apa-apanya dibanding kopi luwak. Berapa? Cuma 53 rebu perak dowang per kilo!! Duh, selera saya kok sama yang murah meriah gini ya..

Yah, selera memang nggak bisa dipaksain.. kalo nggak doyan, ya nggak doyan aja, biarpun mahal, eksotik dan kondang seantero jagad. Dan kalo doyan, ya doyan ajah.. meskipun itu barang "murah". Apakah selera saya perlu di-upgrade? Nggak ah. Saya cinta kopi Mandailing murah saya
itu..

Soal kopi luwak, saya punya surat resmi yang bilang "SAYA PERNAH MINUM KOPI LUWAK" asli!!! Ente fan kagak funyaaaahhh.. hahahahaaa.... (ketawa kayak penjahat di film-film).

Culinary Crime

Awalnya adalah kasus "Makanan Sampah", sebuah stasiun TV (*duh kok mendadak lupa namanya*) menyebut istilah "Kejahatan Kuliner".

Istilah ini kemudian dipakai juga untuk merujuk pada bentuk penipuan populer di jagad kuliner Indonesia. Misalnya saja kasus ayam dan ikan berformalin, kasus jualan makanan kemasan kadaluarsa, kasus ayam DeSY (Dead Since Yesterday, a.k.a Tiren) dan daging sapi gelonggongan.

Kasus-kasus ini selalu naik popularitasnya di bulan Ramadhan. Selain karena biasanya masyarakat jadi lebih concern dengan belanjaan makanan di bulan ini, gosip artis juga biasanya rada sepi (puasa puasa kok ngegosip..). Apakah kasus kejahatan kuliner nggak terjadi di luar bulan Ramadhan? well, just because it's not on TV.. bukan berarti bukan?

Kejahatan kuliner, umumnya memang berbentuk penipuan dan kebohongan terhadap publik (bukan "kebohongan publik" ya, yang itu artinya "publik rame-rame berbohong"). Dan sialnya, ini terjadi setiap hari tanpa bisa dicegah. Mulai dari bikin antrian di depan kios biar kesannya rame, sampai pura-pura nge-review di milis biar restorannya laku.

Salah satu bentuk kejahatan kriminal paling tua adalah "Getok Pricing". Dari dulu, kita sudah sering dengar bahwa ada beberapa tempat di tanah air (biasanya di Jawa Tengah dan sekitarnya) yang pedagang makanannya selalu memasang tarif ganda untuk "lokal" dan "turis" meskipun yang disebut "turis" ternyata adalah saudaranya sebangsa dan setanah air. Di jalur-jalur mudik, dimana transaksi kuliner biasanya terjadi secara besar-besaran, modus ini perlu diwaspadai secara saksama.

Ada juga bentuk kejahatan kuliner dengan modus "black campaign". Biasanya sih ini terjadi karena persaingan usaha. Menghembuskan isu bahwa bakso anu pakai daging tikus adalah modus yang populer di tahun 80-an. Issue halal sampai sekarang masih sering dipakai juga. Dengan semakin mudahnya akses internet, blogging dan milis, black campaign juga jadi lebih mudah tersebar. Kalau anda dosen/ peneliti di bidang komunikasi, mungkin bisa dibuat penelitian seberapa cepat sebuah berita negatif tersebar di tanah air. Saya pernah mencoba sebuah penelitian kecil beberapa tahun lalu dengan mengirim berita baik (nggak bohong) ke teman-teman, ternyata hanya dalam waktu 3 x 24 jam
berita tersebut sudah kembali ke mailbox saya, dikirimkan sebagai forward-an dari teman yang sudah bertahun-tahun gak ketemu. Kalau good news aja cuma perlu 3 hari, apalagi bad news. Berita buruk biasanya berhembus lebih cepat bukan?

Nah, terus sebagai tukang makan, pencinta "honest food", penjaga pusaka kuliner negeri (hiyaaaa... berat ya? :), apa yang bisa kita lakukan?

Sayangnya, sampai sekarang kejahatan kuliner belum dianggap sebagai kejahatan besar. Di kepolisian juga (sependek pengetahuan saya) belum ada Unit Khusus Kejahatan Kuliner. Jadi, tampaknya kita sebagai warga masyarakat harus bergerak dengan cara kita sendiri.

Sebagai konsumen, cuma satu caranya.. belajar terus biar pinter. Anda nggak akan tau bedanya ayam DeSY dengan ayam normal kalau nggak belajar, bukan? Kita ga akan ngeh kalau terlibat dalam black campaign, kalau kita nggak punya cukup ilmu buat mengenali email forward-an bohong, bukan? Jadi intinya mah, tambahin ilmu kulinernya terus.. Bukan cuma tentang "makan apa dimana", tapi juga "apa dan bagaimana makanan". Kalau perlu, setiap makanan yang disajikan diperlakukan secara 3D: Dilihat, Diraba, Diterawang..

Untuk anda yang terlibat di bisnis kuliner.. bulan Ramadhan selalu penuh dengan pengingat untuk jujur. Bisnis dengan cara yang baik akan berujung dengan kebaikan.

Jagalah hati..

I am baaackkk!!!

Hahaha.. ge-er.. emang ada yang kangen apa?

Ya, setelah hampir setahun ini blog nggak dicolek-colek, dan saya bereksperimen bikin blog ini-itu tanpa konsistensi (baik konten maupun ketraturan update), akhirnya saya kembali ke blog dodol ini..

Ternyata emang pada dasarnya saya doyan ngomongin makanan dan hal-haln yang berkaitan sama makanan. Baru-baru ini saya terinspirasi sama Alton Brown, jurig makanan dan scientist. Beliau bilang kalau "Everything in food is science. The only subjective matters happen when you eat it." Rasanya saya diingetin lagi bahwa saya pernah punya blog tentang makanan yang nggak mutu ini. Blog yang sok bercerita tentang "science and philosphy behind food".

Banyak hal yang sudah berubah sejak setahun berlalu.. Sekarang, rencananya blog ini akan hidup kembali. Dengan isi yang.. tetep, suka-suka saya, nggak banyak foto dan gambar (ini yang bikin saya nggak betah sama MP!), dan komentar yang tidak menggambarkan bagaimana popularitas saya dimata teman-teman yang jumlahnya terbatas (lagi-lagi.. ini yang bikin saya nggak betah sama MP!).

Doakan..

Monday, October 22, 2007

Marie? Marie Who?

Milis Jalansutra 27 Agustus 2007

Anak saya, Aga, lagi senang banget makan sendiri. Makan sendiri yang dimaksud adalah meremas biskuit sampai hancur lalu memasukkan remah-remahnya ke mulut (belum tentu mulutnya sendiri, bisa jadi ke mulut Mumu, boneka sapi kesayangannya). Salah satu menu andalannya dalah biskuit bundar, tipis dan kering bertitel "Marie". Dulu, keberadaan biskuit ini tidak pernah saya anggap serius. Tapi tiba-tiba tadi sore sambil melihat Aga saya berpikir.. Siapakah "Marie" yang namanya sudah nempel di biskuit sejak dulu kala? Siapa nama lengkap Mbak Marie ini? Tentu bukan Regal..

Maka sebuah investigasi dilaksanakan malam ini.. dan hasilnya *jreng..jreeennggg* sungguh di luar dugaan saya. Mbak Marie yang namanya dicetak di biskuit yang pernah jadi "the most popular hantaran ke rumah sakit" ternyata punya sejarah dan kisah yang panjaaaaang banget.

Dimulai ketika pada tahun 1875 (yap.. seribu delapan ratusan!) sebuah pabrik biskuit kondang dari London bernama Peek and Freans memperkenalkan sebuah biskuit gepeng sederhana. Pabrik ini berlokasi (sekarang) di 100 Clements Road, Bermondsey, London. Di atas biskuit sederhana itu dicetak nama "Marie" untuk memperingati pernikahan Duke of Edinburgh dengan Grand Duchess Maria of Austria. Nama Maria (atau Marie) inilah yang digunakan untuk menyebut sang biskuit. Entah karena nama "Maria" ini terdengar Spanyol abisss, atau karena ada alasan lain, para pembuat biskuit di Spanyol segera meniru dengan mencetak nama Jeng Marie ini di produk mereka. Konon saat ini separuh dari biscuit yang dikonsumsi di Spanyol adalah Marie Biscuits!

Perkembangan biskuit marie (di Surabaya dulu saya kenal sebagai "roti marie") semakin meluas. Para pelaut Inggris dan Spanyol membawanya ke seluruh dunia (meskipun armada laut Spanyol di akhir abad 19 sudah mulai letoy). Karena biskuit ini kering (kadar airnya rendah), jadi relatif awet untuk dibawa dalam perjalanan yang panjang. Apalagi kandungan susu di dalamnya membuat biskuit ini cukup padat gizi.

Entah tahun berapa biskuit ini nyampe ke Indonesia. Saya duga sih, nggak jauh dari awal tahun 1900-an dan semakin populer ketika banyak anak muda Indonesia (Oost Indie, waktu itu) dapet kesempatan sekolah tinggi, bahkan sampai ke Belanda. Pergaulan dengan European ini lalu berimbas pada budaya kuliner yaitu masuknya kebiasaan nge-teh sore-sore. Biskuit (tentunya, Marie) menjadi pendamping ideal acara ini.

Puncak kejayaan Marie di Indonesia ditandai dengan hadirnya Marie bermerk Regal. Kedua kata ini akhirnya sperti bersatu sehingga banyak diantara kita yang kenal biskuit ini sebagai "Marie Regal". Rasanya, jaman keemasan Marie Regal terjadi pada pertengahan tahun 1980-an ketika hampir semua rumah punya stok Marie Regal di lemari dan biskuit ini jadi sajian favorit dalam perjalanan (ke sekolah atau ke kantor) hadir dalam arisan, latihan volley dan acara-acara Dharma Wanita.

Tidak seperti dugaan banyak orang, Marie Regal bukan merupakan produk dari raksasa biskuit bernama Khong Guan! Marie Regal dibuat oleh CV Jaya Abadi Jakarta. Khong Guan, tentu punya Marie-nya sendiri, meskipun kalah kondang bila dibandingkan dengan Regal.

Setiap orang punya cara sendiri dalam menikmati Marie (Regal), tapi saya yakin cara yang dipakai ayah saya, yaitu mencelup Marie ke kopi atau teh manis adalah yang paling digemari. Adapaun cara yang dipakai anak saya Aga, yaitu biskuitnya diremas sampe bertebaran di sofa, umumnya kurang disukai karena berbagai sebab.. misalnya karena akhirnya sofa dirumah jadi disemutin.. duh..

Mendadak Ahli

Tulisan ini pernah dimuat di Appetite Journey Magazine bulan September 2006

Ada seorang sahabat yang beberapa hari ini tiba-tiba berubah, pokoknya apa saja tentang kopi bisa jadi bahan obrolan seru buat dia. Kalau di televisi muncul berita tentang Aceh, maka sahabat ini akan langsung bercerita tentang karakter kopi Aceh, teknik menyeduh, spektrum warna dan betapa seduhan kopinya berkilau bagaikan rambut gadis-gadis di iklan shampoo.

Saya pun akan "dilarang" untuk berkomentar yang terlalu sederhana apalagi miring tentang kopi. Kalau saya hanya bilang, "kopinya enak dan harum" maka ia dengan gigih akan menjelaskan tentang aroma, body, acidity dan finish. Kalau saya bilang, "gurih nih, mantep!" maka ia segera memperbaiki terminologi saya sambil menceritakan perbedaan karakter biji robusta yang body-nya semantap Titi Kamal si "Mendadak Dangdut" dan arabika yang lebih delicate dan sophisticated.

Tidak hanya hal-hal yang berhubungan langsung dengan kopi yang bisa jadi bahan obrolan. Sidang gugatan cerai penyanyi dangdut pun bisa berujung dengan obrolan tentang kopi. "Eh, lagu Kopi Dangdut tuh pernah ngetop banget loh di Jepang. By the way, tau nggak .. orang Jepang tuh suka kopi dengan karakter … bla.. bla.." Hal yang rasanya paling ‘nggak nyambung’ pun bisa dikaitkan dengan the object of his affection .. kopi.

Ini sih sindrom orang jatuh cinta! Orang yang lagi kasmaran ‘kan begitu, segalanya hanya tentang objek cinta itu. Dan jatuh cintanya kawan saya ini membuat dia tiba-tiba menjadi tahu banyak tentang kopi.

Terus terang, saya sih senang-senang saja karena selama dia masih mabuk cinta dengan kopi saya bisa kebagian icip-icip kopi dari berbagai penjuru Nusantara, dan diajak menjelajahi beberapa coffee shop untuk mencari espresso yang nikmat. Yang saya khawatirkan adalah kalau cintanya mulai redup, apalagi kalau mulai ada perselisihan antara dia dengan objek pujaannya itu. Misalnya kalau penyakit maag-nya kambuh. Wah, hubungan cintanya bisa jadi "benci tapi rindu". Apalagi kalau sampai dapat vonis larangan ngopi dari dokter. Bisa-bisa kisah cintanya jadi backstreet nih!

Nanti, kalau waktunya tiba dan kawan saya itu akhirnya "putus" dan "musuhan" dengan kopi, maka saya harus siap-siap mendengar aneka kisah pahit kopi. How coffee broke his heart, literally! Namun, sementara itu belum terjadi, saya menikmati saja aneka kisah dari sang ahli dadakan. Ilmunya lumayan kok.

Dapur Lintas Gender

Tulisan ini pernah dimuat di Appetite Journey Magazine bulan April 2006

Meskipun para tukang nasi goreng pinggir jalan dan chef restoran bintang lima umum-nya adalah lelaki, namun da-pur rumah tangga dikuasai kaum perempuan, baik itu ibu, istri atau si bibi. Perhatikan saja, mulai dari mengatur posisi panci dan wajan, menentukan merk kecap, letak bumbu dapur, semua seakan bagian yurisdiksi mereka.

Pertanyaannya adalah kenapa kaum lelaki se-akan menjadi alien di dapur? Golongan suami, om, kakek dan sebagainya yang berjender lelaki, umumnya masuk ke dapur hanya pada akhir pekan. Itu pun dengan catatan kalau tidak ada acara sepak bola di teve atau ditantang bermain bulu tangkis oleh Pak RT.

Padahal, jaman manusia masih tinggal di gua, yang bertugas memasak adalah kaum lelaki. Dari menangkap hewan buruan, menyalakan api sampai mengatur pembagian jatah makanan, semua jadi urusan kaum Adam. Kini peristiwa itu mungkin hanya terjadi setahun sekali, saat para lelaki kembali memegang kendali saat acara barbekyu malam Tahun Baru.

Nah, pernahkah Anda mendengar legenda tentang bidadari (pastinya perempuan) bernama Nawang Wulan, yang ketika sedang mandi di sungai selendangnya dicuri oleh pemuda bernama Jaka Tarub? Menurut reflechikayat, Mbak Nawang Wulan ini selalu melarang Jaka Tarub main ke dapur apa-lagi sampai membuka tutup panci dandang nasi. Suatu hari, Kang Jaka melanggar larangan tersebut. Akibatnya fatal, dia harus rela kehilangan istrinya yang secantik bidadari ini. Well, dia memang bidadari, dan memang sial buat si Akang.

Membaca legenda itu, saya lalu curiga jangan-jangan, Nawang Wulan adalah bidadari yang bertanggung-jawab atas tersisihnya para lelaki dari dapur. Dia memang sudah kembali ke Ka-hyangan, tapi sumpah dan larangannya ternyata masih berlaku dalam bentuk "Nawang Wulan Complex" atau "Nawang Wulan Syndrome": kaum lelaki malas ke dapur karena takut kuwalat, khawatir bila sang istri, pacar atau gebetannya merasa tersaingi dalam hal gastronomical.

Lebih gawat lagi, kalau kaum perempuan sampai merasa kurang diperhatikan karena lelakinya lebih suka bergelut dengan lengkuas dan kemiri. Lalu, kaum perempuan mulai lebih sering memakai selendang dan terbang ke sana ke mari. Atau bahkan justru membagi-bagikan selendang ke "Jaka Tarub-Jaka Tarub" lain. Kan repot..

Buat Apa Sih Liburan?

Tulisan ini pernah dimuat di Appetite Journey Magazine bulan Juli 2006

Setiap orang mungkin membutuhkan kegiatan yang selintas seperti membuang waktu ini. Kita perlu alasan yang bagus untuk membobol tabungan, lalu membeli tiket, mengurus penginapan, dan akhirnya pulang membawa segambreng oleh-oleh. OK, alasan paling utama orang berlibur adalah untuk rekreasi. Setelah berhari-hari mengerjakan hal-hal rutin, keadaan pikiran dan jiwa Anda mungkin perlu tune-up ulang, atau malah "dilahirkan" kembali… to be re-created.

Tapi tentunya tidak semua orang perlu alasan yang sebegitu dalam untuk pergi liburan. Anda yang punya pekerjaan dengan rutinitas dan tingkat stres yang tidak terlalu tinggi masih dapat refreshing dengan jalan-jalan ke mal, memburu DVD bajakan, atau bermain Playstation seharian. Lalu apakah itu berarti mereka tidak memerlukan liburan? Ya, tetap perlu, hanya saja dengan alasan yang berbeda.

Masih ingat jaman Anda SD dulu, ketika Anda masih menjalankan ritual berlibur ke rumah nenek di desa? Nah, inilah alasan yang lain untuk berlibur, yaitu bersilaturahmi. Target silaturahmi ini dapat berganti setiap tahun, mengingat zaman sekarang tidak banyak lagi nenek yang tinggal di desa karena sudah diboyong ke kota. Mungkin tahun ini adalah saatnya Anda mengunjungi teman lama, tempat tertentu, atau bahkan menyusuri jejak novel kontroversial yang sangat terkenal akhir-akhir ini.

Ngomong-ngomong soal ritual, ternyata cukup banyak orang yang merencanakan liburan hanya untuk mengisi jatah cuti atau hari libur, sekedar memenuhi ‘kewajiban’ mengisi hari yang kosong. Ini tentu kabar gembira bagi rekan-rekan yang bekerja di biro perjalanan karena mereka sudah punya pelanggan tetap setiap sesi liburan tiba. Tapi sebaiknya Anda berhati-hati jika ini adalah alasan Anda berlibur. Jika liburan sudah menjadi bagian dari rutinitas Anda, dengan cara apa lagi Anda bisa melepaskan diri dari rutinitas tersebut?

Seorang sahabat saya punya alasan yang sangat bagus untuk berlibur. Ia ingin menghabiskan sebagian waktunya dengan menjadi traveller. Anthony Bourdain, seorang celebrity chef kondang, pernah membuat suatu quote yang menarik, "Be a traveller, not a tourist". Alasannya sederhana saja, untuk membuka wawasan dan menambah pengalaman. Menjadi traveller berarti terlibat dengan intensif dalam kehidupan di tempat itu, meskipun hanya satu atau dua hari. Ini bedanya dengan turis, yang datang ke tempat wisata untuk menjadi penonton, berfoto, lalu pulang setelah membeli cindera mata. Dengan menjadi traveller, liburan bisa memberikan makna lain yang lebih dalam. Bukan hanya sekadar mencari backdrop eksotik untuk berfoto lalu dipajang di Friendster atau Multiply.

Jakarta? Asyik Dah!

Tulisan ini pernah dimuat di Appetite Journey Magazine bulan Juni 2006

Apa yang ada di pikiran Anda ketika menyebut ‘Jakarta’? Panas? Macet? Atau Anda malah terbayang mall besar yang sejuk dan terang, cafe dan club yang seru, atau sedapnya kerak telor dan soto betawi?

Di antara semua hal yang ditawarkan Jakarta, dunia kulinernyalah yang paling menarik bagi saya. Anda benar-benar dapat menemukan segalanya di sini. Mulai dari warung mie godog a la South Mountain (a.k.a. Gunung Kidul) sampai restoran masakan kari otentik gaya South India. Dari restoran fine dining gaya Eropa sampai warung Jepang kaki lima bernama suka-suka.

MonasMakanan khas Betawi juga tidak kalah menariknya. Sebagai ‘tuan rumah‘, masakan Betawi malah seringkali tampil sangat unik. Misalnya saja nasi uduk. Makanan yang sering dianggap ikon kuliner Betawi ini punya dua varian yang sangat berbeda. Versi pertama tampil dengan didampingi lauk kering dan goreng-gorengan yang gurih dan asin. Pada versi kedua, hidangan ini justru diguyur kuah semur jengkol yang manis dan mantap. Jika disandingkan, mungkin Anda tidak akan menduga kalau kedua makanan ini berasal dari satu genre: nasi uduk.

Keunikan juga dapat kita lihat pada pola makan warga Jakarta. Di tengah malam, tukang nasi goreng, roti bakar dan mie rebus justru ramai oleh warga Jakarta yang pulang dugem dari club atau cafe (yang tentunya juga menjual makanan). Tukang ketoprak dan bubur ayam di balik gedung-gedung tinggi tiap pagi ramai melayani pembeli, yang sebagian sebenarnya sudah sarapan di rumah dengan semangkuk sereal dan segelas susu. Pada jam makan siang, sambil ngobrol tentang cara mencegah kolesterol, ngerinya penyakit kanker, dan pentingnya menjaga kesehatan, mereka tetap dapat menikmati pecel lele yang digoreng dalam minyak yang warnanya sudah mirip oli bekas. Warga Jakarta yang terkenal tak sabaran menunggu lampu merah di jalanan, ternyata cukup sabar (baca: terlalu sabar) untuk menunggu beberapa jam demi sepotong brownies asal Bandung, sekotak roti abon, atau sekantung donat super manis!

Nah, sekali lagi, apa yang muncul di pikiran Anda jika ada yang menyebut ‘Jakarta’? Masih terpikir tentang panasnya udara dan macetnya jalan raya? Hal itu memang tak terpisahkan dari kehidupan Jakarta. Tapi Jakarta tak hanya punya panas dan macet, ia juga punya dunia tersendiri dan budaya kuliner yang khas. Dunia yang unik, yang mungkin dapat membuat Anda super bahagia tinggal di Jakarta. Selamet Ulang Taon yee...

What's In A Name

Tulisan ini pernah dimuat di Appetite Journey Magazine bulan Mei 2006

Beberapa bulan lalu seorang sahabat mengajak saya mampir ke restoran - sebut saja - Cahaya Abadi. Restoran yang terletak di kawasan Kota, Jakarta Utara ini, konon, mempunyai hidangan burung dara goreng yang sedap tiada tara. Gurih, empuk dan lezat. Pokoknya juara dunia, deh! Tapi, jujur saja saya punya keraguan untuk makan di sana. Bukan karena burung dara gorengnya yang ngetop itu, tapi justru karena nama restorannya.

Well, bagi saya nama adalah kesan pertama yang akan diingat orang akan sesuatu. Dan itu termasuk si restoran tersebut, yang bagi saya namanya lebih mirip dengan toko bahan bangunan.

Beberapa tahun lalu, nama restoran dengan menggunakan pola “[insert your name here]’s Kitchen”, menjadi tren di negeri ini. Maka lahirlah restoran dengan nama Mama’s Kitchen, Choky’s Kitchen, Mimi’s Kitchen dan lain-lain. Varian lainnya adalah “Dapur Anu”. Misalnya Dapur Bang Haji, Dapur Betawi, dan Dapur Babah. Awalnya memang lucu dan imut. Tapi lama-lama agak menyebalkan juga, terutama kalau kita tak kenal nama pemilik dapur itu. Siapa sih lu?

Tren nama ini kemudian mulai bergeser ke "Roemah Sesoeatoe“. Ada Roemah Kopi, Roemah Nenek, dan roemah-roemah lainnya. Ada apa sih dengan “edjaan lama“ ? Entahlah, tapi yang jelas nama-nama restoran dengan ejaan lama ini berkembang luar biasa. Sampai-sampai kata “kopi“ saja bisa menjadi nama restoran yang hype kalau anda tulis sebagai “Koffie“.

Belum lagi tren mengekor nama jika ada yang suk-ses. Ingat kisah si Roti Ngobrol (Baca: Bread Talk)? Dalam sekejap mereka mempunyai cerita (Bread Story), menjadi pecinta (Bread Lover), bahkan diangkat menjadi raja alias Bread King. Roti-roti ini tiba-tiba mempunyai aktivitas bahkan profesi!

Namun, tak semua nama restoran melulu mengikuti tren. Ada beberapa nama klasik yang menjadi favorit sejumlah pemilik restoran. Misalnya, Sabar Menanti, Takana Juo, Sudi Mampir, atau Ojo Lali. Beberapa nama klasik justru menarik karena bisa punya arti ganda. Misalnya, Ayam Bakar Jakarta atau Jagung Bakar Bandung. Wah, ini restoran punya menu yang sungguh berbahaya. Bayangkan, ada ayam... bakar Jakarta!

Nah, pada akhirnya Anda tentu mengingat kata-kata Oom William Shakespeare. Katanya, “What’s in a name?”. Ya, apalah arti sebuah nama. Burung dara goreng, asalkan dimasak dengan jempolan, akan tetap terasa lezat. Sekalipun jika disajikan di restoran yang bernama mirip toko bahan bangunan. Ya... seperti Cahaya Abadi itu...