Definetley the three kings of coffee. At least that I knew of.
I tried this coffee in a good Monday morning in Bandung. It was raining last night and the chill of morning breeze was still around me. My friend brought his portable stove and a pan to my hotel room (strange, I have a house in Bandung but having a morning coffee in a hotel!). Then, a good coffee time surely followed.
How on earth you make a good cuppa? Depends on how you want it actually. If you wanna have a good cuppa of espresso (that tiny cup of good brew), you must have a good machine to come along with good bean and skilled operator. In a simpler way, if you want to have 'just cofee' or we call it here 'kopi tubruk' then all you need is a stove, a pan and good coffee powder.
You must know the character of water you use. That morning, I used tap water from the hotel sink. Sure, it has quite some mineral, hardness and so on. But I believe that it would be very subtle I hardly notice.
First you heat up the water up to near boiling point. When the first bubble arise from Rinse your cup (or mug) with portion of this hot water. Put a tablespoon of coffee and pour in the hot water. Wait a minute then stir.
The first, it was java. It was one of the best java I ever had. The aroma is just built nicely layer by layer but not too complicated. First a bit citrus then followed by other fruity aroma. The thick chocolaty flavour is there with no bitterness. The body is slightly thin but still there to feel. The finish is long and sweet. Very sweet. This coffe is a good pair of that traditional banana fritter and surely wakes up every senses. A nice cuppa to start a day.
Then I came to toraja. This is also an arabica bean therefore I expect slightly the same experience as java. Missed big. This cuppa is far more complex and heavy. The first aroma that strikes me is very thin chocolate followed by layers of spicy tones. The body is thicker than java and the acidity is more lively. By the time the cup getting colder, heaviness of the body added. The finish is clean and no sweetness lingers. A brisk and powerfull coffee. I believe that this cup will be a very good companion for afternoon snack or afterlunch drink.
As a comparison, the last cup, robusta. After that rich and complex aroma of toraja, the aroma of robusta is nothing to feel. A flat aroma and flavour. However, the body is there and this cup will be best as a base of other sweet drinks. Very sweet drink.. with milk..
Friday, October 8, 2004
Wednesday, September 15, 2004
Semarang part 1: To Eat Lumpia Properly
Sejak kenal lumpia semarang, dengan sausnya yang mengingatkan pada
lem prangko di kantor pos :), lengkap dengan daun selada, cabe
rawit, bawang putih dan kucai (atau bawang yang mulai tumbuh?), saya
selalu bertanya-tanya dalam hati, "bagaimanakah cara makan lumpia
semarang yang baik dan benar?"
Maka dengan pertanyaan berkecamuk di dada (hayyahh.. hiperbolik
sekali dikau!), saya berangkat ke Semarang bersama plesirannya
Sahabat Museum di long-weekend kemaren. Target operasi: Lumpia Gang
Lombok!
Setiba di kawasan Gang Lombok, lho kok ramai? Ternyata di klenteng
Tay Kak Sie yang didirikan tahun 1772 ini sedang ada perayaan
sembahyangan yang oleh warga lokal dikenal sebagai Sembahyang
Rebutan. Hewan kurban dijejer, makanan berderet-deret dan gunungan
tinggi dari kue terlihat rapi berwarna-warni. Dulunya, kue pada
gunungan ini diperebutkan setelah upacara (mengingatkan pada upacara
gerebeg bukan?). Sekarang, acara rebutan ditiadakan, diganti dengan
pembagian sembako pakai kupon.
Setelah puas melihat-lihat upacara, saya menculik Dila Bondan untuk
menjalankan misi mencari kebenaran tentang lumpia semarang. Di
tukang lumpia Gg Lombok, dua kompor sedang menyala. Yang satu
dipakai untuk membuat isian lumpia (rebung, udang dan telur), yang
satunya dipakai untuk menggoreng. Warungnya kecil, sempit tapi sibuk
banget. Puluhan besek besar dan kecil bertumpuk buat take away.
Besek kecil isi 10, yang besar isi 20.
Dengan semangat kami pesan "makan di sini, 3 basah, 2 goreng..
tambahin 2 lagi, goreng".. abis itu malu.. ternyata porsi "normal"
makan di tempat adalah 2 potong lumpia. Jadilah datang ke meja saya
4 piring lumpia (dengan formasi 2-2-2-1). Waduh, tampak lapar sekali
kami.. dan menuh-menuhin tempat banget!
Lumpia disajikan di piring tanggung dalam keadaan terpotong-potong.
Disampingnya tampak beberapa sendok saus kecoklatan yang kental,
dengan cincangan bawang putih (freshly crushed!) dan acar timun. Di
meja, digelar piring berisi daun selada, cabai rawit dan "bawang"
(seperti kucai tapi lebih gendut, seperti bawang daun tapi bagian
bawahnya gembung. Benda apakah ini?). Nah lu.. gimana makannya ini?
Tiba-tiba, segerombolan anak muda duduk di dekat saya. Waaa, orang
semarang.. bisa dicontek dong.. Lumpia pesanan mereka datang
(sementara punya saya belum diapa-apain tuh!). Dengan seksama saya
perhatikan.. Lho kok malah pada pesen es cao? Es cao adalah es
campur berisi cincau hitam, kolang-kaling, kelapa muda dan lain-
lain, diguyur sirup merah dan es serut. Langsung saya
teringat "pesan" dari Bu Widya Wijayanti malam sebelumnya.. "Es Cao
Gang Lombok adalah es cao terenak di dunia".. waa.. abis makan
lumpia pengen pesen juga aahhh...
Akhirnya tibalah..
Ooo.. ternyata cara makan lumpia-nya gitu toh. Ambil sepotong, beri
saus langsung happp!! dan disusul segera dengan acar timun
dan "bawang". Daun seladanya jadi kayak lalapan aja..
That's it.. mission accomplished..
As for the lumpia and es cao.. yes, they are trully "terenak di
dunia".. Dunia Lain ataukah Dunia Dalam Berita.. terserah anda
meyikapinya..
Hehee.. beneran lho.. itu adalah lumpia terenak yang pernah saya
coba. Kepadatan isi, kerenyahan kulit dan ukurannya pas banget.
Lumpia dibandrol 5 ribu perak per biji, dan es cao-nya.. gratis..
lha wong saya ngembat punya Titin..
Karena di klenteng sedang ada perayaan, maka di seputaran Gg Lombok
banyak sekali penjaja makanan. Hampir saja saya terpikat jajan
bolang-baling, Wedang Tahu dan Es Tebu kalau nggak ingat bahwa rute
tour kami habis ini adalah: Makan siang di Toko Oen!
ps. Iwan@office van Semarang.. thnx cerita-cerita, sambutan dan
muaci wijen-nya!! Thnx buat Pak Agni yang bayarin lumpia saya
(wahh.. akhirnya.. gratisan semua :)
lem prangko di kantor pos :), lengkap dengan daun selada, cabe
rawit, bawang putih dan kucai (atau bawang yang mulai tumbuh?), saya
selalu bertanya-tanya dalam hati, "bagaimanakah cara makan lumpia
semarang yang baik dan benar?"
Maka dengan pertanyaan berkecamuk di dada (hayyahh.. hiperbolik
sekali dikau!), saya berangkat ke Semarang bersama plesirannya
Sahabat Museum di long-weekend kemaren. Target operasi: Lumpia Gang
Lombok!
Setiba di kawasan Gang Lombok, lho kok ramai? Ternyata di klenteng
Tay Kak Sie yang didirikan tahun 1772 ini sedang ada perayaan
sembahyangan yang oleh warga lokal dikenal sebagai Sembahyang
Rebutan. Hewan kurban dijejer, makanan berderet-deret dan gunungan
tinggi dari kue terlihat rapi berwarna-warni. Dulunya, kue pada
gunungan ini diperebutkan setelah upacara (mengingatkan pada upacara
gerebeg bukan?). Sekarang, acara rebutan ditiadakan, diganti dengan
pembagian sembako pakai kupon.
Setelah puas melihat-lihat upacara, saya menculik Dila Bondan untuk
menjalankan misi mencari kebenaran tentang lumpia semarang. Di
tukang lumpia Gg Lombok, dua kompor sedang menyala. Yang satu
dipakai untuk membuat isian lumpia (rebung, udang dan telur), yang
satunya dipakai untuk menggoreng. Warungnya kecil, sempit tapi sibuk
banget. Puluhan besek besar dan kecil bertumpuk buat take away.
Besek kecil isi 10, yang besar isi 20.
Dengan semangat kami pesan "makan di sini, 3 basah, 2 goreng..
tambahin 2 lagi, goreng".. abis itu malu.. ternyata porsi "normal"
makan di tempat adalah 2 potong lumpia. Jadilah datang ke meja saya
4 piring lumpia (dengan formasi 2-2-2-1). Waduh, tampak lapar sekali
kami.. dan menuh-menuhin tempat banget!
Lumpia disajikan di piring tanggung dalam keadaan terpotong-potong.
Disampingnya tampak beberapa sendok saus kecoklatan yang kental,
dengan cincangan bawang putih (freshly crushed!) dan acar timun. Di
meja, digelar piring berisi daun selada, cabai rawit dan "bawang"
(seperti kucai tapi lebih gendut, seperti bawang daun tapi bagian
bawahnya gembung. Benda apakah ini?). Nah lu.. gimana makannya ini?
Tiba-tiba, segerombolan anak muda duduk di dekat saya. Waaa, orang
semarang.. bisa dicontek dong.. Lumpia pesanan mereka datang
(sementara punya saya belum diapa-apain tuh!). Dengan seksama saya
perhatikan.. Lho kok malah pada pesen es cao? Es cao adalah es
campur berisi cincau hitam, kolang-kaling, kelapa muda dan lain-
lain, diguyur sirup merah dan es serut. Langsung saya
teringat "pesan" dari Bu Widya Wijayanti malam sebelumnya.. "Es Cao
Gang Lombok adalah es cao terenak di dunia".. waa.. abis makan
lumpia pengen pesen juga aahhh...
Akhirnya tibalah..
Ooo.. ternyata cara makan lumpia-nya gitu toh. Ambil sepotong, beri
saus langsung happp!! dan disusul segera dengan acar timun
dan "bawang". Daun seladanya jadi kayak lalapan aja..
That's it.. mission accomplished..
As for the lumpia and es cao.. yes, they are trully "terenak di
dunia".. Dunia Lain ataukah Dunia Dalam Berita.. terserah anda
meyikapinya..
Hehee.. beneran lho.. itu adalah lumpia terenak yang pernah saya
coba. Kepadatan isi, kerenyahan kulit dan ukurannya pas banget.
Lumpia dibandrol 5 ribu perak per biji, dan es cao-nya.. gratis..
lha wong saya ngembat punya Titin..
Karena di klenteng sedang ada perayaan, maka di seputaran Gg Lombok
banyak sekali penjaja makanan. Hampir saja saya terpikat jajan
bolang-baling, Wedang Tahu dan Es Tebu kalau nggak ingat bahwa rute
tour kami habis ini adalah: Makan siang di Toko Oen!
ps. Iwan@office van Semarang.. thnx cerita-cerita, sambutan dan
muaci wijen-nya!! Thnx buat Pak Agni yang bayarin lumpia saya
(wahh.. akhirnya.. gratisan semua :)
Friday, August 6, 2004
Feeling kinda religious here.. sorry no food talk
This is from Dian Sastrowardoyo:
Disaat waktu berhenti... kosong
Dimensi membutakan mata, memekakkan telinga
Lalu diri menjadi hampa
Saat paradigma dunia tak lagi digunakan untuk menerka
Sadarku akan hadirmu, mematahkan sendi-sendi yang biasanya tegak berdiri
Sujudku pun takkan memuaskan inginku
'tuk hanturkan sembah sedalam kalbu
Adapun kusembahkan syukur padamu ya Allah
Untuk nama, harta dan keluarga yang mencinta
Dan perjalanan yang sejauh ini tertempa
Alhamdulillah pilihan dan kesempatan
Yang membuat hamba mengerti lebih baik makna diri
Semua lebih berarti
akan mudah dihayati
Alhamdulillah,
Disaat waktu berhenti... kosong
Dimensi membutakan mata, memekakkan telinga
Lalu diri menjadi hampa
Saat paradigma dunia tak lagi digunakan untuk menerka
Sadarku akan hadirmu, mematahkan sendi-sendi yang biasanya tegak berdiri
Sujudku pun takkan memuaskan inginku
'tuk hanturkan sembah sedalam kalbu
Adapun kusembahkan syukur padamu ya Allah
Untuk nama, harta dan keluarga yang mencinta
Dan perjalanan yang sejauh ini tertempa
Alhamdulillah pilihan dan kesempatan
Yang membuat hamba mengerti lebih baik makna diri
Semua lebih berarti
akan mudah dihayati
Alhamdulillah,