Wednesday, January 19, 2005

Mengapa Buntut Enak? Sebuah tinjauan anatomik

Mengapa sop buntut dan sop iga itu enak? Maksudnya.. kedua menu ini selalu spesial deh, dibandingkan sop daging biasa.

Berikut adalah beberapa dugaan (hayyaahh, sok serius mode: on!)

1. Daging pada bagian buntut dan iga jarang bergerak.

Buntut/ekor digunakan oleh sapi umumnya untuk mengusir lalat atau
serangga yang mengganggu. Pada hewan berkaki empat, sebenarnya
fungsi lain dari ekor adalah sebagai counter-balance (penyeimbang)
apabila hewan tersebut berlari. Pada makhluk berkaki dua, fungsi
counterbalance dilakukan oleh tangan (karena itu ketika berjalan,
kedua tangan kita bergerak berlawanan dengan gerakan kaki bukan?)
Seperti kita tahu, sapi saat ini sudah jarang berlari. Kecuali pada
saat diadu lari (karapan). Dengan demikian bagian ekornya juga tidak
lagi terlalu banyak bergerak.

Fungsi lain dari ekor pada sapi adalah untuk berhitung.. kan lebih
mudah menghitung sapi dengan ekornya.. satu ekor, dua ekor..
(hayyah.. another issue!:).

Karena ekor sapi ini tidak terlalu banyak bergerak, maka struktur
ototnya tidak "sekencang" bagian paha misalnya. Akibatnya daging
pada bagian ekor/buntut juga lebih empuk. Teori yang sama juga bisa
diterapkan pada bagian iga. Otot pada bagian ini hanya bergerak
ketika sapi bernafas. Sebuah gerakan yang ringan dan tanpa beban.

Bagian sapi yang juga relatif jarang bergerak adalah otot di bagian
tulang belakang, sebelum paha. Kalau pada manusia, ini adalah bagian
tubuh yang membuat Inul bisa melakukan gerakan "ngebor". Kira-kira
bagian pinggang. Pada sapi, bagian inilah yang menghasilkan sirloin
steak, salah satu potongan daging paling bagus.

2. Ekor dan iga "mengandung" tulang

Ada english saying yang mengatakan "meat closest to the bone is the
sweetest". Manis bukan dalam artian seperti rasa gula, tapi
yang "paling bercitarasa".

Ketika dipanaskan, mineral dalam tulang (juga sumsumnya) terdifusi
kepada dagingnya. Karena laju difusi berbading terbalik dengan
ketebalan, maka citarasa daging (otot) pada bagian yang paling dekat
dengan tulang menjadi lebih sedap. Ini adalah teori dari buku "What
Einstein Told His Cook" karya Robert L Wolke. Nah, iga dan buntut
biasanya memiliki lapisan daging yang tidak terlalu tebal, sehingga
difusinya lebih mudah. Maka by default daging pada bagian ini
juga "paling manis". Belum lagi ditambah dengan lapisan tipis lemak
pada permukaan daging yang juga memberi rasa ekstra, apalagi ketika
lapisan lemak ini dibakar. Dua difusi rasa dari arah yang berlawanan
ini semakin membuat daging di bagian ini paling cihuy.

Nah pelajaran anatomi sapi hari ini sampai di sini dulu... he..he..
Untuk membuktikan kedua dugaan di atas, segera kunjungi warung sop
buntut langganan anda..

Retro!! Es Krim Woody

Sepulang dari kondangan teman di Bogor (bosen
euy kondangan mulu, kapan ngundangnya ya? :), saya menyusuri Jalan
Raya Bogor yang dulu merupakan jalur perlintasan utama Jakarta-Bogor
sebelum ada Tol Jagorawi.

Begitu masuk ke kawasan Depok, pada kilometer 37 saya mampir
sebentar di pabrik es krim Woody. Es Krim Woody! Ingatan langsung
melayang pada tahun 80-an ketika es krim ini begitu jayanya sehingga
menjadi nama default es krim buat anak-anak kecil, termasuk saya.

Pabrik Es Krim Woody membuat taman bermain gratis di halamannya.
Taman bermain kecil yang begitu sederhana. Ada beberapa ayunan,
perosotan, panjat-panjatan dan alat-alat permainan seperti di taman
kanak-kanak pada umumnya. Di taman itu juga dibuka kafetaria Woody.

Kafetaria ini lebih mirip kios es krim sih.. Gambar Woody Woodpecker
(4 ekor!) terlukis di jendela. Papan iklan dan daftar menu yang agak
lusuh termakan waktu menunjukkan "Es Lemon Spesial", "Banana
Split", "Es Krim Soda" dll.. Sayang, tak ada satupun dari menu
tersebut yang dijual lagi saat ini. Yang dijual hanyalah es krim
horn (by scoop) dan es krim dalam kemasan.

Siang itu, es krim horn tersedia dalam 3 rasa yaitu durian (!),
coklat dan stroberi. Saya coba campuran durian-coklat dan coklat-
stroberi. Es krim ini haluus sekali dan manisnya nendang! Harga per
scoop 3 ribu perak. Selain es krim, Woody juga membuat es stik. Ini
adalah es (dari air) dengan berbagai rasa, dijual dengan harga
seribu perak saja. Saya coba beli es stik rasa stroberi yang, lagi-
lagi, manisnya nendang bangets!

Untuk di rumah, saya beli seliter es krim coklat (18 ribu perak). Si
Mbak penjaga yang ramah memberi tahu kalau mereka masih menjual es
krim Joy, yaitu es Woody dalam kemasan ember berisi 9 liter.
Harganya 80 ribu perak

Martabak

Kenapa malem minggu tukang martabak ramai?

Dugaan sementara ini terjadi karena pada umumnya para pemuda membawa
martabak sebagai oleh-oleh buat sogokan (martabak biasa), atau tanda
terimakasih karena mendapatkan ijin bertamu (martabak spesial),
apalagi jika sampai diijinkan membawa sang gadis berjalan-jalan
(martabak spesial, tambah keju, coklat dan susu kental manis cap
kembang). Martabak ini tentunya untuk calon mertua tercinta..

Untuk yang tidak membawa martabak, agar tidak dieliminasi, maka
biasanya sang pemuda harus bersiap menemani ayahanda sang gadis
bermain catur..

Ahhh.. it's a good life of the eighties...