Monday, May 2, 2005

Gabus Kuah Pucung

OK, pertama saya mau bikin pengakuan. Punten, please, jangan diketawain..

1. Saya belum pernah liat ikan gabus idup. Beneran. Saya belum pernah ketemuan sama ikan gabus yang sedang bercengkrama, berenang-renang kian kemari.. Sampai beberapa bulan lalu, bahkan saya ga tau apakah ikan gabus itu termasuk ikan laut atau ikan sungai (iddiihh sekali bukan?)

2. Saya bahkan belum pernah liat ikan gabus yang udah mati. Maksudnya yang baru mati satu kali (just died) dan masih berwujud ikan gabus segar. Yang pernah saya liat paling berupa ikan asin gabus, sudah dipotongin atau masih rada utuh. Tapi kan warnanya udah coklat gituh..

Yap, that's my confession...


Tadi malam, dalam perjalanan pulang ke rumah dari pabrik, saya "menemukan" sebuah warung nasi. Hayyah, padahal ini warung nasi teh kelewatan dua kali sehari, kok saya nggak ngeh ya? Letaknya di Jl. Lapangan Tembak Cibubur, dekat kelurahan Cibubur, sebrangnya Warung Soto Udin yang "katanya" kondang di wilayah sini..

Istimewanya, warung berspanduk biru ini menjual menu "Gabus Pucung", dan aneka masakan betawi lainnya!!

Di depannya, digelar aneka baskom enamel berisi rupa-rupa masakan mateng dan setengah mateng. Ada ayam siap goreng, opor tempe, semur daging dan kentang, telor asin, telor dadar, bihun goreng, tumis tempe dan beberapa papan pete dan Di salah satu baskom tampak potongan ikan dalam kuah hitam mengkilap berminyak. Eureka!!

"Ini apaan Bang?" kata saya sambil H2C (harap-harap cemas)
"Gabus pucung," kata si Abang berkumis baplang melintang dengan tenang.

Tiada saberapa lama, Si Abang Kumis ini mengantarkan dua piring ke meja saya. Piring pertama berisi sepotong ikan (pilihan saya, badan ke arah buntut), dalam kuah hitam. Piring kedua berisi nasi uduk (dalam porsi XL) bertabur bawang goreng dan bubuk emping, disertai sedikit bihun goreng dan tumis tempe kering.

Nasi uduknya simple but OK. Porsinya bo.. Jalansutra banget deh :)

Sekarang menu utama.. Potongan ikan gabus yang sudah digoreng dan berukuran cukup baik (sekitar 5 inch panjangnya), terendam didalam kuah. Kuahnya hitam mengkilap dengan lapisan minyak kekuningan diatasnya. Beberapa lembar daun salam tampak mendampingi taburan cabe rawit dan bawang merah yang muncul di sana sini.

Kuahnya pedes!! Tapi terasa kalau bite dari pedesnya bukan semata dari cabe. Ada hentakan peppery yang lumayan nendang. Rasa kunyit dan sereh juga susul-menyusul menerjang. Gurihnya kluwek (a.k.a pucung) yang digunakan menjadikan body dari kuahnya terasa mantep, dan sekaligus memberi sentuhan "tangy". Somehow, saya mencium aroma jeruk pecel (limo) pada kuah ini.

Adapun ikan gabusnya.. komentar pertama saya adalah.. "Ooo, kayak ginih ternyata bentuk si ikan gabus teh..". Dagingnya putih dan moist dengan duri yang masih acceptable. Tekstur dagingnya memungkinkan terserapnya kuah pucung sampai ke dalam. Hanya karena ikan ini sudah digoreng sebelum dicemplungkan ke kuah, maka bagian
kulitnya sudah tertutup (sealed) sehingga dagingnya tetap putih.

Tak terasa, nasi uduk ukuran XL sudah nyaris tak bersisa. Waduh, padahal ikan dan kuahnya masih banyak nih. Akhirnya, terpaksa (beneran, terpaksa! kok ga percaya sih?) saya nambah nasinya.

"Setengah ajah" kata saya. Si Abang Kumis Baplang cuma mengangguk.
Lho, kok datengnya dengan ukuran yang sama dengan yang pertama? Ya sudahlah.. (pasrah bahagia mode: on).

Setelah menghabisi nasi, gabus, segelas es teh tawar, dan terkaget-kaget oleh suara sinetron di TV kecil yang dipasang deket dapur warung ("Apa? Melamar perempuan miskin itu? Mama tidak setuju!!!" kata sinetron teh..), akhirnya check out time.

"Nasi uduk satu setengah (padahal mah dua!), gabus, tempe, bihun, es teh tawar. Berapa Bang?" kata saya sambil lagi-lagi H2C..

"Sepuluh rebu,"
kata si Abang.

Alhamdulillah.. good food, good price!

Tenang Bang, I'll be back..

2 comments:

zule's home said...

Kang Irvan..Salam Kenal,

Saya salah satu anggota Milis JS (pasif) penikmat tulisan kang Irvan. Pertama kali baca postingan kang Irvan, membuat saya ingin cepat-cepat ingin mencoba makanan dan ingin ikut mereview, tapi yang utama saya selalu tertawa membaca setiap postingan itu. Bahasanya kocak banget. Sungguh suatu keinginan buat saya ikut mereview makanan bareng kang Irvan.

Eh iya..
Selamat menempuh Hidup Baru ya..
semoga langgeng dan bahagia!

Anonymous said...

Duh... pertama kali maem gabus pucung, wuihhhh sampai sekarang terngiang-ngiang dan pengen..pengen lagi... segar eui! Kalo mo mencoba dengan yg unik, ikan setelah di goreng di bakar dan baru di masukinke kuah..wuihhhh sedeppppp!!